DUMAI– Seorang mantan karyawan, Hendi Y, dipecat dari perkerjaannya secara sepihak oleh manajemen perusahaan Wilmar Grup karena dianggap tidak masuk bekerja lebih dari lima hari. Tak terima keputusan tersebut, Hendi, meminta keadilan perusahaan melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Dumai.

               Menyikapi pengaduan eks pekerja yang disampaikan Senin (17/06), Disnakertrans Kota Dumai melalui Mediator memanggil masing-masing pihak, Senin (24/06) siang untuk dilakukan mediasi. Namun pihak perusahaan yang hadir tidak ada hubungan dengan ketenagakerjaan.

               “Perusahaan mengirim utusan yang tidak ada paham dengan permasalahan tenaga kerja. Coba yang hadir tadi itu Pak Azhar, Marusaha dan Azwardi. Kita berharap yang hadir itu Manager HRD atau Legalnya. Tadi beliau ngubungi akan hadir, ternyata diwakilkan. Selain tak bisa membuat keputusan, datang tanpa ada membawa surat kuasa”kata Muhammad Fadhly, SH, Mediator Ketenagakerjaan Disnakertrans Kota Dumai, dengan nada tinggi dan kecewa kepada Infopublik.dumaikota.go.id Kota Dumai, Senin (24/06).

               Dia menyampaikan, kasus Hendi Y ini sangat menarik karena  mantan karyawan PT. Wilmar Nabati (WINA) yang sudah bekerja tujuh tahun ini, mengalami Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) karena dianggap mangkir. Sementara Hendi, sebelumnya telah mendapatkan izin berobat secara lisan dari atasannya akibat kecelakaan yang dideritanya.

“Berdasarkan pengakuan pekerja, dirinya mengalami patah tulang akibat tertimpa barang yang dibawanya saat pindah rumah. Lalu dia berobat ke ahli patah tulang. Dari kejadian tersebut dia minta izin keatasannya dan dibenarkan. Anehnya ketika kondisi membaik, dia tak dibenarkan masuk. Justru dia disuruh menandatangani surat pengunduran diri. Makanya dia tidak terima diperlakukan demikian dan mengadkannya ke kita”jelas pria bertubuh tambun ini.

               Terhadap kasus pemberhentian pekerja tak hadir karena sakit ini dinilai kurang Fair (adil,red). Sementara ada pekerja yang tak pernah hadir, jarang hadir dan tak mengisi absensi tidak pernah diberi sanksi dari manajemen perusahaan. “Jangan karena mereka punya power lalu manajemen menjadi takut, menganak emaskannya, memberi bonus yang besar dan golongan tetap dinaikkan. Sementara mereka yang diam dan tak ada apa-apanya lalu ditindak seenaknya. Ini sudah tak wajar lagi”kata pria hobby Futsal ini.

               Semestinya, bersikap adil itu merata kesemua pekerja. “Aturan dan sanksi tegakkan sesuai mekanisme. Jangan seenaknya”pintanya. (adl/dh/Diskominfo)