Dumai- Seminar HIV dan AIDS dilaksanakan di Gedung Pendopo Sri Bunagtanjung Dumai, Rabu (17/1/2018). Para Kepala OPD di lingkungan Pemko Dumai serta staf ahli walikota Dumai hadir dalam acara tersebut.

Puluhan peserta dari berbagai kalangan serta pelajar mengikuti seminar yang mengangkat Tema, “Mari Bekerja Sama untuk Meningkatkan Kesadaran dan Kepedulian Seluruh Masyarakat Terhadap HIV dan AIDS demi Kemajuan Kota Dumai”.

Wakil Walikota Dumai Eko Suharjo SEmenjelaskan bahwa obat dan vaksin untuk mencegah HIV belum ada. Dalam program penanggulangan HIV Kota Dumai berbagai program pengembangan telah dilakukan. “Kota Dumai peringkat ke dua (2) di Riau bahkan kemungkinan terpapar HIV dan AIDS mencapai 63.200 kasus,” ungkapnya.

Menurut Eko Suharjo, 3 sektor yang aktif berperan dalam penanggulangan HIV AIDS yaitu Dinas Kesehatan, KPA, LSM berbagai program termasuk peningkatan peran positif dari pemangku kepentingan, komunikasi perubahan perilaku, promosi kesehatan abad (aku bangga aku tahu) pengembangan berbagai layanan kesehatan terkait HIV dan IMS seperti klinik VCT, klinis IMS, klinik CST, klinik PPIA, Klinik LKB.

Upaya untuk membongkar fenomena gunung es dengan peningkatan layanan mobile, statis diantara 1 kasus HIV sebenarnya ada 100 kasus yang belum ditemukan. Temuan kasus banyak ditemukan di RS berarti sudah masuk pada fase AIDS, sudah terlambat dalam penemuan, kasus HIV sudah 5-10 tahun yang lalu, jika cepat ditemukan cepat dilakukan tatalaksanakan seperti pendampingan perubahan perilaku sehingga dapat mencegah penyebaran yang lebih luas.

Dijelaskan, Kota Dumai merupakan daerah beresiko akan penularan HIV AIDS, karena secara geografis Kota Dumai merupakan kota pelabuhan internasional, daerah industry. Terlihat dari perkembangan temuan kasus baik secara mobile, statis mengalami peningkatan, dengan positif rate 1%. Secara epidemiologi Kota Dumai termasuk pada epidemic terkonsentrasi, pada populasi beresiko tinggi, persentase kasus 5%.

Peningkatan kasus HIV di Kota Dumai, jelas Eko Suharjo didominasi oleh penularan melalui transmisi seksual dan sebagian besar pada kelompok pekerja dan termasuk didalamnya pekerja berpindah atau sering disebut 4M (Mobile Man with Enviroment).

“Secara kumulatif jumlah kasus HIV di Kota Dumai sampai tahun 2017 ada 398 kasus dan AIDS 225 kasus. Di Kota Dumai kasus HIV AIDS ada kecenderungan sudah masuk populasi umum pada Ibu Rumah Tangga yaitu pada peringkat ketiga, setelah wiraswasta dan WPS. Pada tingkat epidemic terkonsentrasi kita perlu upaya yang lebih optimal lagi, karena kalau sudah masuk pada epidemic meluas masuk pada populasi umum yang lebih luas lagi seperti di Papua sudah sangat sulit menanggulanginya,” urainya.

Target Global Goal Penanggulangan HIV AIDS yang tertuang dalam target SDG’s untuk menurunkan prevalensi HIV AIDS dan tertuang dalam RPJMN Republik Indonesia untuk mencapai “Getting 3 Zeroes” yaitu: Menurunkan kasus baru HIV AIDS dengan “TOP” Temuan Yang Positif, Obati yang positif, Pertahankan yang diobati. Menurunkan angka kematian akibat HIV AIDS. Menurunkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.(hms/dean)

Leave a Reply

Your email address will not be published.
You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>